Beranda / Berita / Indonesia Darurat Kekerasan Sexual!!

Indonesia Darurat Kekerasan Sexual!!

“Indonesia darurat kekerasan sexual!”, itulah salah satu pernyataan yang dilontarkan oleh Dr. Indraswari sebagai salah satu narasumber dalam kegiatan Seminar Pusat Studi Gender – Kekerasan terhadap Perempuan. Kegiatan seminar ini diselenggarakan oleh Pusat Studi Gender dan LPPM UNPAR pada tanggal 18 April 2016 dalam rangka menyambut hari Kartini.

DSC_0003Kegiatan yang dimoderatori oleh Ibu Sukawarsini Djelantik ini, dibuka oleh Bapak Mangadar Situmorang, Ph.D. selaku Rektor UNPAR. Dalam sambutannya Pak Mangadar menyampaikan dukungannya terhadap dibentuknya kembali Pusat Studi Gender di UNPAR, dengan harapan ke depannya UNPAR dapat menyelenggarakan program studi Gender.

Selanjutnya narasumber pertama, yaitu Dr. Indraswari menyampaikan tentang fakta dan data masalah gender yang terjadi di Indonesia. Data-data tersebut membagi masalah kekerasan gender dalam 3 ranah, yaitu: personal (dalam keluarga), komunitas (dalam lingkungan sekolah, kerja, ruang publik), dan negara. Dari ketiga ranah tersebut, kekerasan paling tinggi terjadi di ranah personal, dengan kasus tertingginya adalah kekerasan terhadap istri.

DSC_0007Lebih jauh, Dr. Indraswari menyampaikan bahwa kondisi saat ini yang terjadi adalah bahwa korban belum mendapatkan keadilan dan pelaku cenderung mendapatkan imunitas. Hal ini menyebabkan urgensi kekerasan seksual di Indonesia, di mana Undang-undang tentang masalah ini sedang terus diproses. Menurut Dr. Indraswari cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal ini adalah dengan:

  1. Speak up
  2. Break the silence, because silence is not an option

Narasumber kedua dalam kegiatan ini adalah Dr. Anne Marie Hilsdon, yang menyampaikan kasus-kasus kekerasan gender yang terjadi di luar negeri. Dalam kesempatan ini Dr. Anne Marie terutama menjelaskan tentang kasus-kasus kekerasan gender yang terjadi di Kigali (Rwanda) dan di Mindanau (Philipina). Kasus-kasus gender di Kigali terutama berakar dari Genocide pada tahun 1994 saat terjadi perang saudara antara Hutu dan Tutsi. Pada saat itu tercatat 500.000 wanita diperkosa. Selain itu perang saudara tersebut mengakibatkan anak-anak kehilangan orang tua. Hal-hal tersebut menyebabkan terjadinya “changing gender identities”.

DSC_0004

Sedangkan di Mindanau, kasus kekerasan terutama dialami oleh kaum wanita muslim. Mereka mengalami “Double minority status”, yaitu sebagai kaum minoritas (hanya 7% warga yang beragama muslim), dan sebagai wanita.

Selanjutnya diskusi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Sebagai penutup, disampaikan bahwa perhatian terhadap gender ini sudah dibahas secara nasional maupun internasional. Masalah-masalah kekerasan gender tersebut mesti diatasi. Sebenarnya tugas laki-laki lebih penting dalam menyuarakan solusi dan terutama kerja sama antara laki-laki dan perempuan.

DSC_0010

DSC_0017

DSC_0021